Sebagai cucu dari orang sehebat Oshima Goro dan Oshima Chiaki, Ueda Ichiro seperti pria yang sama sekali tak mewarisi kehebatan kakek-neneknya. Ia bahkan gagal dalam wawancara kerja, sehingga hanya bisa bekerja paruh waktu sebagai pengantar bento. Suatu ketika, ada seorang anak yang kesulitan dalam Matematika di tempat di mana ia biasa mengantar bento. Ia merasa tergerak untuk membantu, tetapi ia tak tahu harus apa. Jangankan untuk mengikuti bimbel, anak itu bahkan hampir tak bisa membayar bentonya. Ichiro pun bertanya pada kakeknya akan masalah ini. Bukannya menjawab, kakeknya justru meminta Ichiro untuk membaca buku yang baru saja ia tulis. Buku itu menceritakan kisah cinta antara Oshima Goro dan istrinya, Oshima Chiaki, juga tentang bagaimana mereka memperjuangkan pendidikan luar sekolah.

Please, kenapa gue baru tau ada dorama sebagus ini sekaraaaang? Kayaknya gue gak pernah liat ada yang rekomen ini di timeline Twitter gue. Padahal ya, asli, dorama ini bagus banget! Dorama yang disiarkan di NHK ini membawakan cerita bertema pendidikan dengan sangat apik dan juga bikin hati ini menghangat.
Mikazuki atau dalam Bahasa Indonesia berarti bulan sabit sepenuhnya menceritakan kisah Oshima Goro bersama Oshima Chiaki. Keduanya sama-sama memiliki minat pada pendidikan. Gol mereka bukan nilai, tetapi pengetahuan yang cukup untuk membuat anak-anak hidup bahagia. Diceritakan di awal, sebelum menikah dengan Goro, Chiaki adalah seorang pengajar privat yang cerdas dan ambisius. Tak heran jika anaknya, Fukiko, juga mewarisi kecerdasan ibunya. Ia selalu mendapat nilai sempurna dalam ujian.
Suatu hari, Fukiko bercerita bahwa ada salah seorang temannya yang selalu mendapat nilai nol. Hal ini membuat Chiaki tergerak untuk memberikannya les privat secara cuma-cuma. Dari situlah akhirnya Chiaki mengajarkan bocah laki-laki tersebut, agar nilainya membaik. Namun, hasilnya nihil: anak itu tetap mendapat nilai nol, tak peduli usaha apapun yang Chiaki lakukan. Ia akhirnya menyerah untuk mengajar anak tersebut.
Tak lama kemudian, Fukiko mengabarkan ibunya jika nilai temannya tersebut mulai membaik. Setelah diusut, ternyata anak itu diajari oleh seorang petugas kebersihan sekolah bernama Oshima Goro. Chiaki yang penasaran, akhirnya mulai menyelidiki cara apa yang dipakai Goro sehingga berhasil mengajari anak tersebut. Ya, sebenarnya sih ya, Chiaki itu merasa heran. Bisa-bisanya orang yang tak kuliah pendidikan mengunggulinya? Namun, rasa itu berubah menjadi ketertarikan begitu ia semakin mengenal Goro. Ternyata, mereka berdua sama-sama memiliki harapan yang sama: mereka ingin membuat anak-anak bahagia lewat pendidikan.
Tentu semua gak berjalan dengan mudah. Ada banyak masalah yang datang silih berganti. Ditambah dengan sifat dasar Chiaki yang ambisius, kadang gue melihat Chiaki seperti tak pernah menghargai Goro. Gue jadi meragukan, apa Chiaki memang cinta dengan Goro atau hanya mencari teman yang bisa ia manfaatkan? Namun, namanya juga manusia ya. Chiaki sebenarnya punya cara yang berbeda dalam mengungkapkan rasa sayangnya pada Goro maupun keluarganya.
Gue sebagai mahasiswa pendidikan merasa tertampar dengan apa yang Chiaki pikirkan soal pendidikan formal. Ada banyak fakta yang gak bisa dielak, bikin gue mikir… andai gue punya banyak waktu saat magang kemarin harusnya gue melakukan sesuatu seperti Goro dan Chiaki. Namun, seiring berjalannya cerita, terlihat bahwa pemikiran mereka berbenturan dengan sistem yang sulit dielak. Ini bukan soal kebahagiaan anak, tetapi juga hal-hal yang harus dipenuhi anak karena tuntutan sistem dan orang tua.

Sepanjang dorama ini, rasanya kayak nonton dokumenter kisah nyata. Tentu sulit untuk menghadirkan waktu puluhan tahun ke dalam bentuk dorama 5 episode. Gue bahkan awalnya sedikit sangsi, apakah 5 episode cukup untuk menggambarkan waktu sepanjang itu? Namun, ternyata gue salah. Penggambaran latarnya menurut gue bagus banget untuk ukuran dorama. Bukan hanya benda-benda dan pakaian, penghadiran nuansa jadulnya juga terlihat dari rupa fisik karakternya. Kalo diperhatikan, Goro dan Chiaki bener-bener terlihat semakin tua. Gak perfect memang, tapi udah oke banget.
Untuk akting, wah… heran heran. Bagus banget. Kayak yang tadi gue bilang, rasanya kayak nonton dokumenter nyata. Ajib banget! Terutama tentu saja Chiaki dan Goro. Chemistry-nya dapet banget, sifatnya juga dibawakan seakan-akan itu sifat asli mereka.

Dari dorama ini, banyak banget pesan yang bisa dipetik. Dorama ini seakan menyadarkan kita bahwa semua manusia lahir dengan potensi berbeda. Lingkungan lah yang membuat standar-standar atas banyak hal, yang seharusnya tidak dijadikan patokan. Merubah sistem yang sudah ada turun temurun tentu tak bisa dilakukan semudah itu. Perubahan besar-besaran adalah hal yang hampir mustahil dilakukan sendirian. Namun, bukan berarti kita benar-benar tak bisa merubah apapun. Langkah pertama adalah sebuah perubahan yang berarti, sekalipun hanya berimbas pada hal yang amat kecil. Bukankah, semuanya selalu dimulai dari hal kecil?
Selebihnya, dorama ini bagus banget. Gue yang kelahiran heisei, seolah ikut nostalgia menuju era showa. Emang ya, cerita nenek itu selalu seru aja gitu buat didenger wkwk. Oh ya, dorama ini minim musik. Kekurangannya, mungkin bikin ngantuk buat sebagian orang (apalagi durasi per-episodenya 50 menit), tetapi kelebihannya kita bakal tenang banget nontonnya. Konflik yang dihadirkan pun terasa natural dan gak mengada-ada, like a domino aja gitu. Sebab-akibat. Pokoknya, highly recommended!
Satu respons untuk “Mikazuki (5 Episode, 2019): Antara Ambisi, Harapan, dan Cinta”