Pasca kecelakaan naas, jiwa seorang pemuda terpecah menjadi tujuh kepribadian. Masing-masing dari mereka muncul di hari yang sama dalam seminggu, sehingga dinamakan sesuai hari kemunculannya. Mereka hidup beriringan hingga akhirnya keanehan muncul. “Selasa” bangun di hari Rabu, pertanda “Rabu” telah menghilang entah ke mana.

Sebuah cerita menarik tentang orang yang memiliki kepribadian ganda alias DID. Di film sejenis, biasanya gue gak tau kapan jiwa-jiwa itu akan mengambil alij atau ya paling cuma tau hal apa yang bisa men-trigger jiwa lain muncul, nah di film ini jiwa-jiwa tersebut beralih secara teratur setiap minggunya. Jadi ya, ini kali pertama gue “lihat” ada orang berkepribadian ganda yang seperti itu.

Sejak awal film, “Selasa” menjadi pencerita utamanya. Mungkin karena ia adalah hari yang paling dekat dengan hari Rabu ya, jadi lebih tepat menggambarkan keadaan ketika “Rabu” menghilang. Nakamura Tomoya betul-betul mampu memainkan karakter yang berbeda dengan baik, walau sebenarnya sepanjang film kita cuma mengenal Selasa dan Senin. Hari-hari lain diceritakan sedikit, tetapi kita tetap bisa merasakan 7 karakter itu dari diri si “aku”.

Plot dalam film ini berjalan dengan baik. Dengan durasi yang cukup singkat, 104 menit, Gone Wednesday terasa pas. Walau fokus cerita ke tokoh lain jadi gak tergali, setidaknya kita cukup bisa merasakan emosi film lewat “Senin” dan “Selasa”. Konflik yang terjadi pun cukup bikin gue ikut merasa khawatir dengan kondisi si tokoh utama.

Sebetulnya, gue masih penasaran dengan motif Ichinose yang mau membantu si “aku”, karena di film sebatas diceritakan mereka pernah mengenal saja. Gue ngerasa, sepertinya hubungan Ichinose dan “aku” di masa kecil lebih dari apa yang Ichinose tuturkan. Dibanding hubungan “Selasa” dengan Mizuno, gue lebih tertarik untuk menggali kisah Ichinose dan “Selasa” lebih dalam. Penasaran juga, dia ngomong apa ya ke 7 kepribadian itu sampai-sampai percaya kalau Ichinose adalah sosok teman yang membantu mereka. Apa gak ada trust issue?

Akan tetapi, kalau ditanya apakah konflik utamanya terselesaikan? Tentu gue jawab iya, bahkan dengan sangat bagus. Ending-nya yang tersirat bikin gue dan temen gue berteori macam-macam. Namun, ini teori ending versi gue. Silakan blok tulisan di samping karena mengandung spoiler: Jadi, setiap malam “aku” selalu memimpikan kejadian kecelakaan yang dia alami. Pas di ending, bruung-burungnya hilang termasuk si anak itu. Gue berpendapat, kalau akhirnya si Senin yang jadi satu-satunya jiwa yang tersisa di tubuh “aku”, sedangkan jiwa “aku” yang sebenarnya adalah si hari Selasa.

Selebihnya, gue suka dengan film ini. Walau masih banyak menyisakan tanda tanya, tapi masih cukup oke dinikmati tanpa bikin pusing-pusing melongo. Gue rasa akan lebih menarik kalau ada series-nya, yah…. semoga!

Tinggalkan komentar