Kalau bicara soal Jepang, apa sih yang terbesit di benak kalian? Sushi? Sakura? Anime? Banyak, ya! Negeri matahari terbit yang satu ini memang punya banyak hal menarik untuk diikuti. Mau itu traditional culture maupun pop culture, semuanya seru deh. Tak terkecuali dari dunia perfilmannya, Jepang tak kalah loh dari film-film Hollywood maupun dari negara Asia lainnya.

Genre-nya yang terkadang nyentrik dan berani, bikin film Jepang punya keunikan sendiri jika dibandingkan dengan film yang sering kita tonton di Indonesia. Nah, buat lo yang penasaran sama film Jepang dan bingung mau nonton film Jepang yang mana dulu, gue punya rekomendasinya! Ini dia!

1. Confessions (2009)

Bagaimana jika sosok yang harusnya menjadi panutan, malah memiliki keinginan besar untuk membalas dendam? Di suatu hari yang mendung, seorang guru SMP mengumumkan pengunduran dirinya di hadapan semua siswa. Tak hanya itu, Bu Moriguchi–namanya–juga membuat sebuah pengakuan yang mencengangkan. Ia sudah tahu siapa orang yang telah membunuh anaknya, yang tak lain adalah murid di kelasnya sendiri. Oleh karena adanya UU yang melindungi anak di bawah umur, Bu Moriguchi berpikir hukum tak akan bisa menuntaskan rasa dendamnya. Untuk itu, ia berniat untuk membalaskan dendamnya sendiri pada murid tersebut dengan cara tak biasa.

Akan tetapi, perlahan fakta demi fakta pun terkuak lewat pengakuan tokoh-tokohnya. Harus ke mana rasa simpati kita berpihak?


Dengan tone yang gelap, film ini betul-betul berhasil membawa suasana yang suram dan muram. Kalau lo berpikir ini adalah film detektif ala-ala, lo salah besar. Baik penonton maupun para tokoh sudah tahu siapa pelakunya, jadi rasa penasaran bukanlah tujuan utama dari film ini. Gue rasa, film ini lebih ingin menggali rasa empati penonton akan kemalangan, kemudian diombang-ambingkan hingga akhirnya dibuat bingung sendiri akan “siapa yang salah?”. Seperti kehidupan nyata, film ini tak punya sosok hero maupun villain sehingga akan sulit untuk menghakimi satu tokoh saja.

Poin utama yang gue suka dari film ini adalah dari segi penokohan yang dimilikinya. Betul-betul terasa saling berhubungan satu dengan lainnya. Selain itu, pergantian sudut pandang pun terasa nyaman untuk diikuti. Gue tidak dibuat pusing dengan hal itu, bahkan bisa dibilang plotnya berjalan dengan baik. Ada saat di mana plotnya bergerak lambat, ada pula plot yang bergerak begitu cepat. Semua disuguhkan sesuai porsi dan tujuannya. Benar-benar film yang menarik!

2. Ikigami: The Ultimate Limit (2008)

Tidak ada yang tahu perihal kapan kita mati? Hal ini tak berlaku di negara “ini”. Di sebuah negara, ada sebuah undang-undang yang dinamakan UU Kemakmuran Negara. Sesuai namanya, UU ini dibuat demi kemakmuran negara dengan cara menekan angka bunuh diri lewat sebuah vaksin yang disuntikkan pada anak-anak yang akan masuk SD. Cairan tersebut berisi nano kapsul yang dapat membunuh 1:1000 warganya dalam rentang usia 18 – 24 tahun. Pemerintah berpikir, dengan diberlakukannya hal tersebut, warganya akan jauh lebih menghargai hidup.

Orang-orang yang mati demi negara ini akan disebut sebagai “Pahlawan Negara”. 24 jam sebelum kematiannya, seorang kurir akan mengirimkan notifikasi kematian yang disebut dengan Ikigami, berisi berbagai hak yang akan si Pahlawan Negara peroleh. Jika tahu 24 jam lagi akan mati, apa yang bakal kalian lakukan?


Sesuai tagline komiknya, drama yang akan mengguncang jiwa, film ini berhasil membuat jiwa gue terguncang! Emosi para tokoh begitu tahu 24 jam lagi akan mati membuat gue turut merasakan rasa putus asa dan frustrasi mereka. Walau baru mengenal tokoh saat 24 jam sebelum kematiannya, emosi yang dicurahkan terasa begitu nyata seolah-olah gue sudah mengenal tokohnya begitu lama. Akting Matsuda Shota yang dituntut untuk emotless pun semakin membuat film ini semakin terasa mantap. Sebagai kurir, terlihat sekali ia mencoba untuk menutupi fakta jika ia sebenarnya tak suka dengan UU tersebut. Namun, ia harus tetap profesional dan tak memperlihatkannya sebab ada polisi rahasia yang setia mengawasinya.

Walau versi filmnya hanya menyuguhkan sedikit cerita dari versi komik, gak bisa dipungkiri kalau air mata gue tetep ngalir deres pas nonton. Kayaknya sutradara film ini lebih ingin menfokuskan cerita pada melodramanya, sementara bagian-bagian berat hanya diceritakan segelintir saja. Di versi komiknya, cerita sedikit lebih berat karena dikaitkan dengan orang-orang besar di pemerintahan. Sedikit lebih depresif, kalau boleh dibilang. Cerita tokoh yang diangkat versi film menurut gue cerita yang tidak terlalu beratnya saja. Namun, film ini tetep jadi favorit gue dan wajib banget buat ditonton, deh!

3. Library Wars (Library Wars 2013 dan Library Wars: Last Mission 2015)

Dari judulnya, mungkin udah sedikit bisa tergambarkan film ini bercerita tentang apa. Yup! Perang buku, perang secara literal. Bercerita tentang sebuah negara yang menyensor banyak buku sejak diberlakukannya UU Pembatasan Media. Jadi, buku-buku yang ada harus melewati badan sensor dulu baru bisa didistribusikan. Jika ada tempat yang ketahuan menyimpan atau menjual buku yang terlarang, buku tersebut akan diambil paksa bahkan sampai dibakar! Mau jadi apa negara yang berani membakar bukunya, bukan?

Situasi tersebut tentu menimbulkan kontra di masyarakat. Maka, dibentuklah unit khusus Perpustakaan yang memiliki hak istimewa untuk menyimpan buku-buku yang disensor pemerintah. Namun, tentu tak semudah itu. Unit perpustakaan harus berperang dengan lembaga sensor jika ingin mempertahankan buku tersebut. Bukan perang dingin, melainkan perang betulan! Demi sebuah buku, unit yang berisi pustakawan itu harus rela mempertaruhkan nyawanya.


Kacaaau. Keren banget film ini! Pustakawan yang biasanya digambarkan cupu dan kolot (mayoritas di film digambarkan begitu, bukan?) kali ini dibuat menjadi sosok yang tangguh dan jago berperang! Adegan aksi yang ditampilkan sangat menarik, terutama adegan Eikura Nana yang notabene satu-satunya perempuan yang turun ke medan perang.

Untuk seri keduanya, Library Wars: Last Mission, cerita lebih menunjukkan pada pelaksanaan UU Pembatasan Media yang mulai menyimpang. Jika semula hanya buku-buku yang berisi adegan kekerasan yang diberedel, kini dokumentasi sejarah pun menjadi incarannya. Jadi, walau adegan aksinya tak terasa jauh berbeda dari sebelumnya, seri keduanya ini menghadirkan konflik cerita yang lumayan menarik. Hadirnya sosok Departemen Pendidikan yang ingin menjadi penengah pun membuat ceritanya semakin menarik. Akan tetapi, apakah mereka mampu mendamaikan dua kubu tersebut? Nonton aja, deh!

4. Close Knit (2017)

Tomo ditinggal ibunya lagi. Anak kelas 6 SD itu sudah terbiasa ditinggal ibunya tiba-tiba seperti itu, tetapi tidak “selama” ini. Ibunya hanya menitipkan pesan agar ia tinggal bersama pamannya untuk sementara waktu. Sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali Tomo mengunjungi pamannya, tentu ada banyak perubahan yang terjadi. Kini, pamannya tidak lagi tinggal sendiri. Ia tinggal bersama seorang transpuan bernama Rinko. Awalnya, ia merasa aneh sebab harus tinggal bersama Rinko. Namun, perlahan Tomo merasakan bagaimana hangatnya seorang “Ibu” darinya, yang selama ini belum pernah ia rasakan.


Sebuah film tentang transpuan yang menarik. Film ini seolah ingin mempertanyakan esensi dari seorang “Ibu”. Apakah “Ibu” adalah titel yang hanya diperbolehkan untuk manusia yang dilahirkan sebagai perempuan saja? Apakah “Ibu” hanya untuk seorang wanita yang bisa mengandung dan melahirkan saja? Close Knit menyuguhkan cerita sedalam itu. Apalagi, tokoh-tokoh wanita dalam film ini semuanya adalah seorang single parent. Artinya, mereka sama-sama menanggung kekhawatiran besar dalam membesarkan anaknya sendirian. Kalau lo gak masalah dengan film yang punya tokoh transpuan, film ini bagus banget buat ditonton.

5. GANTZ (GANTZ dan GANTZ: Perfect Answer)

Kurono dan Kato tiba-tiba tertarik ke suatu ruangan misterius setelah tertabrak kereta. Tak hanya mereka berdua, orang lainnya pun muncul dengan raut kebingungan. Mereka kemudian terlibat dalam sebuah permainan yang “diciptakan” oleh sebuah bola hitam besar bernama GANTZ. Mereka diminta untuk membunuh alien-alien yang ada dengan dibekali sebuah pistol dan baju khusus. Jika mereka mencapai 100 poin, mereka dapat menukarkan poin tersebut dengan dua hal: keluar dari permainan atau menghidupkan kembali orang yang telah mati. Akan tetapi, nyatanya permainan itu bukanlah sebuah permainan biasa sebab semuanya terhubung pula ke dunia nyata!


Populernya Alice in Borderland kemarin membuat gue teringat dengan film yang sama-sama dibesut oleh Shinsuke Sato. Beliau jago banget ya memvisualisasikan adegan aksi dengan begitu ciamik. Keren! GANTZ sendiri diproduksi lebih dari sewindu yang lalu, di mana menurut gue efeknya udah cakep banget untuk ukuran tahun segitu. Alur dari filmnya pun bikin deg-degan dan ngeri. Kalau lo suka genre survival atau aksi, dijamin GANTZ bakal bikin lo puas nontonnya deh!

Seperti Library Wars, cerita live-action GANTZ terbagi menjadi dua. Bedanya, GANTZ ini betul-betul memberikan tanda “bersambung” ke seri selanjutnya. Ada pula jembatan dari film ini, kalau gak salah tayang di televisi dengan judul Another GANTZ. Di seri keduanya, cerita akan menunjukkan konflik utama dengan penyelesaian yang menurut gue masih terasa tersirat banget. Namun, gue cukup puas sih dengan ending-nya, malah kalau dipanjangin lagi mungkin bakalan aneh. Selebihnya, gue suka banget dengan jalan cerita GANTZ yang menegangkan


6. Solomon’s Perjury (Solomon’s Perjury: Suspicion dan Solomon’s Perjury Judgment – 2015)

Sebuah peristiwa menggegerkan terjadi di sebuah SMP. Sesosok mayat ditemukan tertimbun salju! Setelah diidentifikasi, mayat tersebut adalah siswa dari sekolah itu sendiri bernama Takuya. Suasana duka menyelimuti seisi sekolah, hingga akhirnya sebuah pernyataan mengejutkan pun muncul. Sebuah surat anonim mengatakan jika ia melihat siswa tersebut dibunuh oleh geng anak nakal yang diketuai Shunji. Namun, Fujino Ryoko merasa ada yang janggal. Ia ingin mempercayai Shunji. Dibantu oleh Kanbara yang muncul tiba-tiba, Ryoko ingin mengadakan pengadilan atas kasus kematian Takuya.


Plot twist di dalam plot twist. Agak kesal juga sebenarnya karena ada beberapa bagian yang rasanya dihadirkan untuk plot twist semata, sehingga tidak mendapat penyelesaian yang memuaskan. Namun, terlepas dari hal itu, gue suka bagaimana film ini menggambarkan bahwa hidup memiliki aksi-reaksi yang tak terduga. Kekuatan film ini ada di tokoh-tokohnya yang notabene masih SMP, di mana mereka dianggap masih belum cukup dewasa dan belum mampu untuk menjadi “pahlawan”. Padahal, di masa-masa ABG seperti itu adalah masa yang cukup krusial sebab menentukan akan seperti apa karakter mereka jadinya. Jalan ceritanya yang sangat lambat mungkin akan sedikit membosankan, apalagi film ini dibagi menjadi dua seri yang sama lambatnya pula. Di seri pertama, penonton akan dibekali berbagai kesaksian. Ibaratnya, di seri pertama inilah penonton akan mengantongi banyak bukti dan diminta untuk menghubungkan semuanya. Nah, yang kedua barulah bagian penyelesaian yang akan membuat kita menjadi “Oh… gitu!”

Film ini sendiri cukup berkesan buat gue karena mengangkat isu bullying, tetapi… ah nanti jadi spoiler hahahaha. Nonton ajadeh.

BONUS

7. Letters from Iwo Jima

Sebenarnya, ini hitungannya film Hollywood, sih. Sutradara dari film ini adalah Clint Eastwood dan diproduseri oleh Clint Eastwood sendiri bersama Robert Lorenz dan Steven Spielberg. Jadi ya, untuk urusan adegan aksi dari film bergenre perang ini gak perlu diragukan lagi. Aktor dari film ini semuanya adalah aktor-aktor Jepang dan tentu saja dialognya dibuat dalam Bahasa Jepang. Selain itu, Letters from Iwo Jima adalah film coupling dari Flag of Our Fathers yang juga digarap oleh sutradara yang sama dengan latar yang sama pula.

Cerita Letters from Iwo Jima sendiri didasarkan atas surat yang ditulis oleh Kuribayashi Tadamichi yang tak lain adalah tentara angkatan darat yang ditugaskan oleh Jenderal Tojo Hideki untuk melindungi Pulau Iwo Jima dari serangan Amerika Serikat. Dalam surat tersebut, diceritakan bagaimana situasi pertempuran saat itu yang menurut gue seru banget sekaligus menyesakkan juga. Wajib banget ditonton, apalagi kalo lo suka film perang!



Itu tadi beberapa film Jepang favorit gue yang gue rasa wajib lo tonton. Sebenarnya masih banyak banget film yang mau gue rekomendasikan, tetapi kalau ditanya Top 6, jawaban gue pasti film-film di atas. Gue pribadi memang jarang sekali nonton film bergenre romansa, tetapi kalau lo pengen rekomendasi film romance Jepang, mungkin akan gue bagikan nanti hehe. Jadi, di antara film-film di atas, adakah yang menarik perhatian kalian? Kalau punya rekomendasi lain boleh banget lho dibagikan di kolom komentar.

That’s all from me, arigatou gozaimashita!

Tinggalkan komentar