Sebuah berita mengejutkan datang dari keluarga pasangan Aminah dan Rizal. Aminah yang sudah berusia 50 tahunan tiba-tiba hamil lagi! Rizal sang suami pusing, apalagi Ibu mertua dan ketiga anaknya: Andri, Indra, dan Indri. Pasalnya, selain sudah tergolong di usia rawan untuk mengandung, keluarga Aminah juga tidak sanggup jika harus mengurus anak lagi.

Kabar kehamilan Aminah langsung menyebar ke seantero kampung, membuat keluarga Aji dan Puput yang belum memiliki anak ingin tahu “kiat-kiat” apa yang membuat keluarga Rizal mudah mendapatkan anak. Mulai dari menukar kasur hingga meminta saran langsung pada Rizal, semua dilakukan demi kehadiran buah hati di keluarga mereka.

Kedatangan “tamu tak diundang” itu nyatanya menjadi awal mula hidup Aminah dan Rizal yang selalu penuh kejutan …


Jujur, gue bukanlah penikmat serial televisi (aka sinetron) Indonesia banget. Alasannya cukup klise, selain episodenya banyak banget, cerita serial TV Indonesia cenderung monoton dan hanya bermain di situ-situ saja. Kalau soal adegan cringe, itu sih masalah selera, ya. But, to be honest, it’s really hard to find a good sinetron nowadays.

Kalo ditanya sinetron Indonesia apa yang jadi favorit gue, jawabannya adalah Preman Pensiun (terutama musim pertama dan kedua, 2015). Salah satu karya terbaik Alm. Didi Petet yang betul-betul punya storyline yang jelas, rapi, dan relatable. Hal inilah yang menurut gue jarang ditemukan di sinetron sekarang. Mungkin karena mengejar durasi tayang, kadang ceritanya jadi bertele-tele dan semakin miss dari plot mayornya.

Hal ini sempet gue khawatirkan terjadi pada sinetron Tamu Tak Diundang. Namun, ketika gue mengetahui sinetron ini adalah tayangan ulang (yang mana seinget gue di tahun 2019 sinetron ini gak booming banget), gue sedikit berharap Tamu Tak Diundang akan memakai cara Preman Pensiun dalam menyuguhkan cerita: kalau selesai, ya selesai, dilanjut ke musim selanjutnya aja. Nah, Jumat lalu, ternyata Tamu Tak Diundang berakhir begitu saja like … (???). Gue gak begitu paham soal rating yang memengaruhi jumlah episode sinetron di Indonesia, tetapi kalau alasan sutradara mempercepat cerita Tamu Tak Diundang gara-gara rating … gue rasa sedih banget, sih.

Sebelum membahas cerita Tamu Tak Diundang, dilihat dari jejeran aktornya udah bisa dibayangin betapa menjanjikannya sinetron ini. Dimulai dari pemeran utama dalam sinetron ini, Lidya Kandou dan Epy Kusnandar, kayaknya soal akting bener-bener udah gak usah diragukan lagi. Keduanya berakting sangat natural, terasa seperti nontonin daily vlog keluarga beneran. Chemistry antara keduanya dapet banget, sepasang suami istri yang saling cinta, tetapi tetep bisa pusing juga mikirin biaya rumah tangga yang harus nambah lagi. Pokoknya, top markotop, lah!

Akting anak-anak Aminah dan Rizal pun sama okenya. Arya Saloka (Andri), Bhisma Wijaya (Indra), dan Nabila Bintang (Indri) bener-bener kelihatan kayak kakak-adik beneran. Jangankan mereka, bahkan karakter pendukung seperti Puput dan Aji pun aktingnya gak kaleng-kaleng. Gue merasa, tiap tokohnya dibangun dengan dasar yang kuat sehingga bisa membuat akting pemain terasa nyata.

Untuk ceritanya sendiri, sebagaimana sinetron pada umumnya, masih ada bagian yang sengaja dibuat panjang demi memenuhi durasi tayang. Namun, hal tersebut masih tergolong ringan dan gak merusak tema mayor dari sinetron ini. Cerita yang disuguhkan Tamu Tak Diundang terasa begitu menggelitik, bahkan sesekali menyentil isu sosial yang ada di sekitar kita. Misalnya, ketika gosip cepat menyebar ke seantero kampung, padahal gosip itu tidak benar. Ini cukup bikin ngakak, sekaligus bikin gue mikir “iya, ya … kenapa gitu ya?”

Problematika soal keluarga yang disuguhkan pun sangat relatable. Bagaimana cara Andri sebagai kakak tertua untuk memberitahu si bungsu soal kehamilan ibu mereka, terasa sekali konflik batin Andri yang notabene memang lebih dewasa. Sementara itu, Indra si anak tengah yang santuy sering bikin gemas sendiri karena selalu bertindak tanpa berpikir panjang. Belum lagi sikap ibu Aminah yang gregetan melihat anaknya hamil lagi di kondisi keuangan yang serba pas-pasan, namun tetap tak bisa menyembunyikan rasa pedulinya. Pokoknya, konflik keluarga yang disuguhkan juga terasa menggeltik dan menyentil penontonnya.

Tema mayor dari cerita ini tentu soal kehadiran “tamu tak diundang” dalam keluarga Aminah. Sepanjang sinetron ini berjalan, kehamilan Aminah lah yang menjadi faktor utama segala sesuatunya berjalan secara mengejutkan. Tema-tema minor seperti kisah cinta Andri dan Selvi yang tak direstui, si rocker playboy Indra, Puput yang terobsesi untuk punya anak, bahkan sampai ke cerita hansip yang jadi RW, semuanya menarik untuk diikuti.

Secara keseluruhan, gue sangat menikmati cerita yang disuguhkan Tamu Tak Diundang. Sejak pandemi, gue sekeluarga kan di rumah terus, kayaknya baru kali ini gue dan orang tua gue bisa duduk manis nonton satu sinetron bareng. Terima kasih klinik tongfang Tamu Tak Diundang, akhirnya kami bisa satu selera. Walau harus diakhiri oleh episode dengan ending yang terburu-buru dan menggantung, 55 episode sinetron ini terasa sangat enjoyable dan selalu dinantikan setiap siangnya. Finally, another good TV series, tapi bukan keluaran tahun ini sih. Hiks.

Tinggalkan komentar