Petualangan Hercule Poirot (Kenneth Branagh) sebagai detektif terus berlanjut. Kali ini, ia terlibat dalam sebuah kasus pasangan muda yang dikuntit oleh mantan si pengantin pria. Poirot awalnya tidak ingin menangani kasus tersebut karena ia merasa mantan kekasih Simon Doyle (Armie Hammer), Jacqueline de Bellefort (Emma Mackey), tidak membahayakan pasangan tersebut. Namun, tragedi pun dimulai. Linnet (Gal Gadot) istri Simon ditemukan tewas di kamarnya ketika mereka sedang berbulan madu. Sungai Nil menjadi saksi segala derita karena butanya manusia akan cinta.

Kalau ditanya siapa saja tokoh detektif yang paling melekat dalam kepala, gue akan 100% menjawab: Sherlock Holmes dan Hercule Poirot. Gimana gak? Kedua tokoh itu sudah lahir seabad lalu, tetapi karyanya tetap menjadi referensi genre serupa hingga kini. Gak cuma itu, sampai sekarang Holmes dan Poirot pun masih sering mendapatkan alih wahananya ke dalam versi layar kaca dan layar lebar—tak terkecuali di tahun ini.
Death on the Nile merupakan film yang diadaptasi dari karya Agatha Christie berjudul sama. Sebelumnya, karya tersebut sudah pernah dialihwahanakan menjadi film pada tahun 1978 dengan judul sama pula. Nah, di tahun 2022, Death on the Nile kembali difilmkan kembali dengan sutradara yang sama dengan film Poirot sebelumnya (Murder on the Orient Express versi 2017), yakni Kenneth Branagh (yang juga memerankan Hercule Poirot. Sungguh multitalenta).

Dalam genre detektif, unsur menegangkan seperti wajib hukumnya. Apalagi, karya Agatha Christie yang mengusung konsep whodunit, setidaknya “harus” membuat penonton membuat dugaan akan siapa pelaku sebenarnya. Dalam Death on the Nile, tersangka yang dihadirkan tak sebanyak Murder on the Orient Express, sehingga peluang tebakan benar soal siapa pelakunya pun semakin besar. Menurut gue, ini menjadi PR yang cukup sulit bagi sutradara untuk dapat menghadirkan ketegangan dalam mencari siapa pelakunya.
Di menit-menit awal, sutradara udah ngode tentang tema besar film ini. Ya, cinta. Bucin menjadi inti permasalahan dari kasus Poirot kali ini. Dengan munculnya flashback Poirot di masa lalu, gue merasa sutradara mau menyamakan persepsi tentang “cinta” yang akan disuguhkan sepanjang film. Jadi, penonton punya persepsi sama: Cinta bisa membuat orang rela melakukan apa pun demi yang dicintainya. Jiakh, bahasa gue apa banget. Happy Valentine, btw.
Di paruh awal film, seperti film bergenre detektif pada umumnya, kita akan diperkenalkan dengan sederet orang yang akan menjadi tersangka. Oh ya, di film ini Poirot kembali bertemu dengan Bouc, yang muncul di film Murder on the Orient Express. Nah, Bouc ini jugalah yang menjadi tokoh yang menghubungkan Poirot dengan tokoh-tokoh lainnya. Ibaratnya, dia jadi tetangga di tukang sayur yang tahu semua gosip terkini seputar kompleks. Salah satu peran penting yang turut andil membuat penonton menduga-duga siapa pelakunya.

Semua pemeran dalam film ini menampilkan akting yang memukau. Gue merasakan ada kebencian dari sorot Jackie pada Linnet yang sudah merebut tunangannya. Mungkin tokoh Jackie ini adalah tokoh favorit gue dalam film ini, baik dari segi penokohan maupun keaktorannya. Selain itu, tentu saja Hercule Poirot pemeran utama dalam film ini juga menampilkan sosok Poirot dengan sangat pas.
Sayangnya, perkembangan alur dalam film ini tak sememukau akting para pemainnya. Entah demi membangun kecurigaan atau bagaimana, gue merasa film ini beberapa kali seperti kehilangan fokus utamanya. Alhasil, ceritanya jadi melebar, sehingga penyelesaian kasus utamanya jadi terkesan kurang maksimal.
Memang dalam sebuah cerita—terlebih novel—akan ada cerita utama dan cerita sampingan di dalamnya. Which is, it’s totally okay untuk sebuah film adaptasi novel memiliki alur yang bercabang seperti itu. Namun, gue merasa film ini terkadang terlalu asyik ingin membuat penonton kebingungan dalam menduga lewat cerita sampingan tersebut. Hal ini berimbas pada klimaks dan resolusi cerita utamanya yang menjadi tidak se-wah itu. IMHO, Ada satu adegan yang paling mengganjal dalam film ini buat gue (dan sampai sekarang pun gue masih bingung)… apa harus (REDACTED) bersikap begitu? Mengambil risiko hanya karena alasan ITU? Aren’t you just (REDACTED) for them? AND YOU (REDACTED) (REDACTED) (REDACTED)??????? (emosi)

Selain fokus cerita yang kurang jelas, kekurangan lain dari film ini adalah kurangnya cerita menguatkan alasan mengapa Sungai Nil menjadi pilihan latarnya. Karena setelah menonton, gue merasa gak ada alasan khusus mengapa Sungai Nil harus menjadi pilihan tempat kejadian perkara kasus kali ini. Tersangka bahkan gak memanfaatkan keunikan Sungai Nil atau pun Mesir ke dalam rencananya. Kalau di novel, ketahuan gak kenapa latarnya dibuat di Sungai Nil? Hmm, jadi penasaran.
Yah, walau ada beberapa kekurangan dalam film ini, bukan berarti film ini gak worth to watch sama sekali, kok. Seperti yang gue sebut di awal, sutradara punya PR yang cukup sulit untuk menyuguhkan cerita ini ke dalam sebuah film yang utuh. Artinya, film ini sudah termasuk berhasil dalam mengalihwahanakan novel tersebut dengan cukup baik. Kalau pengen coba nonton film bergenre detektif yang gak bikin mumet tapi tetap bikin penasaran, boleh banget masukin Death on the Nile ke dalam watchlist-lo minggu ini. Oh, satu lagi, di film ini akan terungkap alasan Poirot … apa hayo? Nonton aja dah!