Emily dibunuh.

Empat saksi dari kejadian mengenaskan itu terus berkata bahwa mereka tak mengingat wajah si pelaku. Trauma dan takut mungkin terlalu menyelimuti ingatan mereka–apalagi keempatnya hanyalah anak SD. Akan tetapi, Asako Adachi–ibu dari Emily–tidak mau menjadikannya sebagai pemakluman. Ia mengutuk keempat anak itu, ia bahkan berjanji untuk tak memaafkan mereka sampai pelakunya ditangkap. Mereka pun diminta Asako untuk menemukan pelakunya. 15 tahun berselang, keempat anak itu telah tumbuh dewasa bersama janji yang terngiang-ngiang di benak mereka. Inilah saatnya pertanggungjawaban atas dosa-dosa mereka.

***

PENANCE atau Shokuzai bisa dibilang termasuk dorama lama yang… cukup underrated di kalangan pecinta dorama. Rasanya jarang banget ada yang membahas dorama ini, sekalipun gue mencari review-nya di blog. Dengan episode yang sedikit, seperti halnya Mikazuki (yang juga punya 5 episode), dorama ini berhasil membangun cerita dengan pas dan tidak bertele-tele.

Ini bukan kali pertama gue menonton hasil karya Minato Kanae–seorang penulis cerita kriminal yang sudah menelurkan banyak karya. Di antara karya-karyanya tersebut, Confessions dan Penance adalah judul yang bisa dibilang paling dikenal di antara semua karyanya, sebab sudah diterjemahkan dalam Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia. Gue sendiri pun mengenal karya beliau lewat film Confessions besutan Nakashima Tetsuya, yang masih menjadi film favorit gue sampai detik ini.

Dengan pendekatannya yang serupa, Minato Kanae menghadirkan cerita Penance dengan inti yang masih mirip-mirip dengan Confessions, yakni mengenai sosok ibu yang kehilangan anaknya. Satu persatu tokoh yang terlibat dalam kematian anaknya diceritakan secara perlahan, menanjka sampai puncak, kemudian akan membuat kita tergidik dan “jatuh” di akhir. Selama menonton Penance, gue selalu dibuat ngeri dan deg-degan. Benar-benar pengalaman menonton yang wah banget. Apalagi untuk ukuran sebuah serial televisi, mungkin ungkapan yang tepat: wah gila gila gila 1000x.

Lewat keempat tokoh dalam Penance (ditambah tokoh Asako sendiri), kita bisa melihat bagaimana posisi wanita dan anak dalam kehidupan sehari-hari (yang sering lolos dari perhatian kita). Semua itu ditampilkan dengan luar biasa lewat akting pemerannya yang mumpuni juga sutradaranya (Kurosawa Kiyoshi, sutradara dari Creepy yang bertindak juga sebagai penulis skenario) yang gak kaleng-kaleng. Penance memberikan experience seperti menonton film di bioskop dalam format serial televisi.

Seperti halnya Confessions yang terdiri atas beberapa babak khusus untuk menceritakan tokohnya, tiap-tiap episode dari Penance menceritakan tokoh-tokoh dan permasalahannya satu persatu. Jika dalam Confessions tokohnya adalah anak-anak tok, dalam Penance tokoh anak-anak ini telah tumbuh dewasa. Mungkin gue gak akan nulis sinopsis tiap episodenya satu persatu supaya gak spoiler, tapi gue bakal nulis beberapa gambaran subtopik dari drama ini, yaitu: posisi wanita dalam rumah tangga, image pendidik, pedofilia, persoalan dalam mendidik anak dan perselingkuhan. Tentunya, semuanya mengandung unsur kriminal so… agaknya kurang baik buat ditonton sama adik-adikmu yang masih kecil.

Poin menarik yang mau gue bahas juga ada pada kostum. Iya, kostum pemain. Kalau dilihat-lihat, semuanya punya kesamaan: memakai baju putih, abu-abu, lalu ke hitam, kecuali Asako yang sejak awal selalu memakai pakaian hitam, kemudian memakai baju merah di ending. Gue rasa, itu bukan kebetulan, melainkan punya makna tersendiri. Di awal cerita, ketika tokohnya memakai pakaian putih, semuanya digambarkan mempunyai hidup yang baik. Perlahan, ketika tokohnya memakai baju abu-abu (well, gak full abu-abu sih, tapi ada nuansa abu-abu di bajunya), di sinilah titik poin mereka menyadari “ada yang salah” dan mulai bertindak. Nah, ketika mereka memakai baju hitamlah saat di mana mereka menebus janji mereka pada Asako.

Secara keseluruhan, Penance berhasil mengalihwahanakan karya Minato Kanae dengan apik. Akting Koizumi Kyoko sebagai ibu Emily betul-betul bikin ngeri dan sebuah pertanyaan jadi terlintas di benak gue: apakah mereka betul-betul harus menebus dosa atas kematian Emily? Yah, lagi-lagi, cerita yang sakit. Highly recommended.

2 respons untuk ‘Shokuzai (5 Episode, 2012): Penebusan Dosa dari Masa Lalu

Tinggalkan Balasan ke Anflim Batalkan balasan